Perbandingan Kinerja Versus IHSG

BulanNAB
INDEKS
IHSGIHSG
INDEKS
KINERJA IHSGIHSG PER THNKINERJA NABNAB PER THNNAB
COMPOUND
 
Apr-161096,68      4.8481096,68   
May-161103,81      4.8391094,64-0,2%0,65%0,65%
Jun-161145,68      5.0171132,723,5%3,79%4,47%
Jul-161250,35      5.2151177,514,0%9,14%14,01%
Aug-161264,37      5.3861216,123,3%1,12%15,29%
Sep-161221,34      5.3651211,33-0,4%-3,40%11,37%
Oct-161325,22      5.4161222,891,0%8,51%20,84%
Nov-161285,85      5.1491162,61-4,9%-2,97%17,25%
Dec-161314,87      5.2971195,962,9%9,3%2,26%19,89%19,89%
Jan-171379,43      5.2941195,35-0,1%4,91%25,78%
Feb-171433,90      5.3871216,351,8%3,95%30,75%
Mar-171448,87      5.5681257,213,4%1,04%32,11%
Apr-171502,77      5.6851283,632,1%3,72%37,03%
May-171522,08      5.7381295,600,9%1,28%38,79%
Jun-171540,77      5.8301316,371,6%1,23%40,49%
Jul-171585,29      5.8411318,860,2%2,89%44,55%
Aug-171612,62      5.8641324,050,4%1,72%47,05%
Sep-171584,44      5.9001332,180,6%-1,75%44,48%
Oct-171706,58      6.0061356,111,8%7,71%55,61%
Nov-171695,85      5.9521343,92-0,9%-0,63%54,63%
Dec-171829,63      6.3561435,146,8%20,0%7,89%39,15%66,83%
Jan-181869,89      6.6051491,363,9%2,20%70,50%
Feb-181861,44      6.5001467,65-1,6%-0,45%69,73%
Mar-181810,27      6.1881397,21-4,8%-2,75%65,07%
Apr-181736,01      5.9951353,63-3,1%-4,10%58,30%
May-181729,06      5.9831350,92-0,2%-0,40%57,66%
Jun-181603,50      5.7991309,37-3,1%-7,26%46,21%
Jul-181643,38      5.9361340,312,4%2,49%49,85%
Aug-181675,52      6.0181358,931,4%1,96%52,78%
Sep-181686,90      5.9771349,56-0,7%0,68%53,82%
Oct-181624,12      5.8541321,79-2,1%-3,72%48,09%
Nov-181672,38      6.0561367,403,5%2,97%52,49%
Dec-181732,65      6.1941398,672,3%-2,5%3,60%-5,30%57,99%
Jan-191881,89      6.5331475,115,5%8,61%71,60%
Feb-191920,46      6.4431454,86-1,4%2,05%75,12%
Mar-192026,48      6.4691460,600,4%5,52%84,78%
Apr-192056,82      6.4551457,49-0,2%1,50%87,55%
May-191974,82      6.2091401,97-3,8%-3,99%80,07%
Jun-192015,07      6.3591435,822,4%2,04%83,74%
Jul-192055,19      6.3911442,930,5%1,99%87,40%
Aug-192048,08      6.3281428,82-1,0%-0,35%86,75%
Sep-191986,65      6.0551367,18-4,3%-3,00%81,15%
Oct-192036,85      6.2281406,242,9%2,53%85,73%
Nov-192006,72      6.0121357,42-3,5%-1,48%82,98%
Dec-192068,26      6.3001422,384,8%1,7%3,07%19,37%88,59%
Jan-202041,01      5.9401341,21-5,7%-1,32% 
Feb-202041,01      5.9401341,210,0%0,00% 
Mar-201536,38      4.5391024,87-23,6%-24,72% 
Apr-201600,00      4.5501027,360,2%4,14% 
May-201693,08      4.7541073,334,5%5,82% 

Dapat dilihat di table bahwa kinerja saya selama 4 tahun terakhir hampir selalu menang versus IHSG hanya di tahun 2018 saja yang kalah. Sebetulnya saya ada data lebih lama mulai dari 2010, tapi karena website ini baru dibuat di tahun 2017, maka ya sudah mulai dari 2016 saja tracking nya . Dalam jangka pendek memang kinerja portofolio yang saya bangun akan fluktuatif di banding IHSG tapi dalam jangka panjang saya berharap akan selalu menang melawan IHSG . Jadi kalau IHSG naek 10% maka kinerja saya harus diatas IHSG minimal 10.1%. Dengan compound sebesar 88.59% maka kinerja saya bisa sebanding atau bahkan menang dibandingkan kinerja para fund manajer yang dibekali sumber daya yang sangat mumpuni :). itu lah keunggulan dari individual investor :).

jadi kita harus memakai sebuah benchmark untuk mengukur sejauh mana kinerja kita dalam mengelola sebuah portofolio. kalau kinerja kita di bawah para fund manajer pengelola reksadana, maka dari pada pusing-pusing, kita serahkan saja semua uang yang akan kita investasikan kepada para fund manajer tersebut karena buat apa buang-buang waktu dan pusing-pusing. hehehe

Berikut adalah kinerja beberapa reksadana saham yang dapat dipertimbangkan. reksadana dibawah ini dikelola oleh para fund manajer yang memiliki berbagai sumber daya yang unggul baik dalam hal teknologi, SDM, sampai ke hal pendanaan. Tapi dapat dilihat bahwa kinerja para fund manejer ini rata-rata minus semua. sekali lagi dapat dilihat bahwa kita sebagai small investor, investor individu memiliki berbagai macam keunggulan yang tidak dimiliki oleh para investor besar :).

KINERJA REKSADANA SAHAM. Source: http://www.bareksa.com

Uncategorized

Dr Tan Chong Koay

Sudah lama saya cari mengenai Mr. Tan ini. dan akhirnya melalui harian kontan ketemu juga. beliau menulis sebuah buku dengan judul rising above financial storm.

Saya beruntung bisa mendapat kesempatan makan siang bersama Dr Tan Chong Koay, pendiri Pheim Asset Management. Ada dua Pheim. Pheim Malaysia, yang berdiri pada 1994, dan Pheim Singapore, yang berdiri sejak 1995.

Dr Tan dijuluki the King of the Second Board di Malaysia, lantaran kepiawaiannya berinvestasi di perusahaan berkapitalisasi pasar kecil pada periode 1995/1996. Sebuah artikel di Bloomberg pada tahun 2006 silam menjulukinya sebagai Southeast Asias small-cap King. Pada tahun 2008 dan 2010, dia dianugerahi penghargaan Best of the Best Award, CEO of the year for Malaysia oleh Asia Asset Management.

Pada tahun 2015, Dr Tan Chong Koay menerbitkan buku best seller-nya, yang berjudul Rising Above Financial Storms. Di dalam buku tersebut, ia menjelaskan filosofi investasinya berdasarkan pengenalan selama 40 tahun mengelola dana masyarakat. Ia menyadari bahwa pasar modal di negara Asia relatif bergejolak. Volatilitas di pasar modal negara Asia tinggi. Ia mengatasinya dengan filosofi investasi untuk “tidak berinvestasi penuh pada saham.”

Lewat tulisan ini, saya akan membagi beberapa hal menarik dari investment wisdom yang dimiliki oleh Dr Tan Chong Koay. Pertama, mari coba kita simak beberapa keyakinan fundamentalnya. “I believe the stock market is not efficient. If you believe the equity market is efficient, you will never be a star,” kata Dr Tan.

Kedua, Ia juga sangat yakin bahwa pasar modal di ASEAN bergerak dalam ayunan besar setiap satu hingga tiga tahun. Pada periode 1985-2000, misalnya, pasar modal Malaysia mengalami setidaknya delapan kondisi bearish, yakni kondisi di mana harga saham turun cukup nyata.

Maka dari itu, market timing (saat beli atau jual saham) sangat menentukan kinerja sebuah reksadana. Bagaimana caranya? “I approach cycle peak and bottom with contrarian thinking,” jelas Dr Tan.

Ketiga, menurut pendapat Dr Tan, “Investors must make every effort to track the changes in the major trends if they wish to outperform“. Contration adalah konsep berpikir melawan keyakinan mayoritas investor. Jika kebanyakan investor menjual, maka kita sebaiknya membeli. Demikian pula sebaliknya.

Buat Dr Tan, saham mid-cap atau small-cap belum tentu berisiko tinggi. Banyak di antara saham-saham golongan kecil dan menengah tersebut yang sebenarnya merupakan kuda hitam dan berpotensi mendatangkan cuan besar. Investor hanya perlu menganalisisnya dengan cerdas dan cermat, terutama dari sisi aspek inovasi, komersialisasi, dan penetrasi pasarnya.

Mengenai timing membeli dan menjual, ia menyarankan agar investor jangan membeli ketika harga saham sudah berada pada kondisi di mana harga sudah terlalu tinggi. “One who buys too high can only sell lower,” tegas Dr Tan.

Mengenai saat menjual saham, Dr Tan menyarankan investor untuk menjual sedikit lebih awal. Kemampuan membaca tren besar sangatlah penting. “Because when the market comes down, it can come down very sharply,” tegas dia.

Value is in the eye of the beholder,” kata dia berulang kali kepada saya. Yang ia maksud adalah nilai sebuah saham tergantung kepada “mata” investor. Seperti nilai sebuah lukisan abstrak Pablo Picasso. Ada yang berani membayar mahal sekali untuk lukisan tersebut, ada pula yang hanya bersedia bayar murah.

Karena itu, ketika aspek psikologi massa sedang bekerja di pasar saham, investor harus bisa merasakan kapan saham sudah terlalu mahal. Jika investor memiliki keyakinan kuat bahwa pasar saham sudah terlalu mahal, maka ia harus keluar dan menjual kepemilikan sahamnya.

Dr Tan tidak menyarankan seorang investor untuk menghabiskan semua dana yang ia miliki untuk membeli saham, terutama saat kondisi ekonomi sedang bagus dan harga saham naik tinggi. “If you are fully invested at all times, particularly if you go in when the economy is doing well and the market is high, it is difficult to make good money out of Asia,” papar dia.

Menurut Dr Tan, jika ingin mengendalikan volatilitas harga saham, investor tidak boleh menaruh semua uangnya di saham (fully invested). Mengapa? Jika fully invested, maka investor tetap berada pada titik harga tinggi. Jika terjadi penurunan, ia akan menderita. Memegang uang tunai untuk mengambil kesempatan dari volatilitas harga saham adalah strategi kunci berinvestasi di pasar modal Asia.

Dr Tan memberi contoh. Ketika indeks harga saham mendekati titik tertinggi pada tahun 2007 silam, salah salah satu reksadana yang ia kelola, yakni Pheim ASEAN Fund, memiliki 53% uang tunai. Ketika harga saham akhirnya turun banyak, Dr Tan baru mulai masuk dan menambah porsi investasinya di saham. Lantas, ketika kemudian di akhir tahun 2008 krisis finansial mulai menghantam Asia, uang tunai di Pheim ASEAN funds jumlahnya tinggal kurang dari 10%.

Saat itu, Dr Tan memiliki keyakinan bahwa pasar saham sedang mengalami rebound hingga akhir tahun 2009, sehingga ia mempertahankan posisi fully invested dan meraup keuntungan besar. “If you are investing in a high-volatility environment, you definitely do not want to be fully invested at all times,” tegas Dr Tan.

Selain market timing, Dr Tan juga menerapkan strategi value investing. “An investor who has the skills and wisdom to take advantage of the markets peaks and troughs,” demikian Dr Tan mendefinisikan seorang value investor yang sukses.

Ketika momok krisis utang negara Eropa menakuti dunia pada tahun 2011, Dr Tan juga tidak terlalu pusing. Ia memiliki pendapat sederhana soal kejadian ini. “I say, never mind Europe, I only care about a few outstanding companies at discounted prices,” cetus dia.

Sumber : https://kolom.kontan.co.id/news/927/makan-siang-dengan-tan-chong-koay

Perusahaan Terbaik Di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2002-2020

Seperti tahun – tahun sebelumnya, saya merangkum kinerja-kinerja perusahaan. Dari sekian banyak perusahaan di bursa efek Indonesia, maka setidaknya terdapat 7 perusahaan dengan kinerja yang luar biasa dan tahun 2020 kedatangan 3 pendatang baru yang di tahun 2019 mereka belum muncul. yaitu TGKA, SIDO, dan ICBP. berikut link tahun 2019 : https://lowardi.wordpress.com/2020/06/12/perusahaan-terbaik-di-bursa-efek-indonesia-bei-2002-2019/. daftar ini hanyalah screening yang masih mentah. perlu di telaah lebih lanjut. Namun dengan melihat daftar ini, dapat memberi masukan mana perusahaan yang mampu melewati berbagai “badai” yang terjadi.
Syarat masuk sebagai perusahaan terbaik ini hanya 1, laba nya bertumbuh setidaknya selama 10 tahun terakhir. Namun karena tahun 2020 terjadi kejadian black swan yaitu pandemi covid-19, maka saya rasa penurunan yang dialami oleh 4 perusahaan teratas dapat di maklumi, sehingga saya tetap memasukan sebagai perusahaan terbaik di BEI.

Gudang Garam Tbk (GGRM)

Mulai mengumpulkan dari harga 36.250 dengan alokasi 15% dari total portofolio

Alasan beli:

  1. Valuasi yang MENARIK. Sudah di bawah standar deviation -2 selama 10 tahun terakhir. Mean PBV 10 tahun di 3,3x. sedangkan di harga 36.250 Pbv hanya 1,2x. Sudah terdiskon 63,6% dari valuasi rata-rata 10 tahun.
  2. Penyebab harga mulai turun dari 2019 adalah di karenakan kekhawatiran akan kinerja yang makin menurun dikarenakan kenaikan cukai rokok di tahun 2020 yang mencapai 23% karena tahun 2019 cukai rokok tidak naik. sehingga kalau di rata-ratakan cukai rokok naik sebanyak 11.5% per tahun. faktanya adalah cukai rokok hampir naik setiap tahun mulai dari tahun 2009 sampai 2019 dengan range bervariasi antara 7-14%. Namun faktanya, penjualan baik Gudang garam maupun sampoerna selalu naik setiap tahunnya. Bahkan laba mereka berdua selama 11 tahun terakhir hanya turun masing-masing 1 tahun dan 2 tahun untuk sampoerna selebihnya naikkk terus. Dengan demikian kalau melihat perkembangan cukai rokok dibandingkan dengan revenue dan kemampulabaan perusahaan rokok, maka dapat dikatakan bahwa kenaikan cukai rokok selalu dapat dibebankan kepada para customer rokok. Hal ini dapat terlihat dari data-data dibawah ini.
  3. CAGR Revenue dari tahun 2008-2019 = 12,54%
  4. CAGR laba dari tahun 2008-2019 = 17,69%
  5. Penyebab harga GGRM turun di 2020 adalah karena ada berita GGRM mulai berinvestasi di sektor infrastruktur dengan membangun bandara dan jalan tol melalui 2 anak usaha yaitu PT. Surya Dhoho investama ( untuk membangun bandara di kediri ) pada bulan juni 2020 dan PT. Surya Kerta Agung ( untuk membangun jalan tol Kediri – tulungagung ) pada bulan november 2020, dengan setoran modal masing-masing 8 triliun untuk SDI dan 1,2 triliun untuk SKA dan menurut manajemen dana tersebut akan distorkan secara bertahap. ( Setoran yang sudah dilakukan belum terlihat di dalam laporan keuangan GGRM per september 2020 ). GGRM juga tidak membagikan deviden tahun buku 2019. Kalau dilihat dari laporan keuangan Q3 2020, maka sebenarnya perusahaan melunasi hutang bank yang cukup besar nilainya sebanyak, 16 Triliun. Karena pelunasan tersebut maka, perusahaan hanya memiliki hutang bank sebesar 1 Triliun saja dari tahun 2019 sebesar 17 Triliun. sedangkan market sudah berpikir perusahaan tidak membagi deviden dikarenakan pembangunan bandara dan sentimen ini menjadi sentimen negatif bagi pergerakan harga saham GGRM di market.
  6. GGRM merupakan sebuah perusahaan CEC.
  7. Prospek usaha yang CUKUP baik di dorong oleh bonus demografi yang sedang dialami Indonesia. Walau memang tidak dapat dipungkiri volume rokok yang selama beberapa tahun terakhir terlihat stagnan. Kebiasaan manusia merokok itu ternyata sudah dimulai sejak 4000 tahun sebelum masehi. dari jaman nya colombus !!
Infografik Cukai Rokok
Tren kenaikan cukai rokok dari tahun 2004 – 2018. untuk 2019 tidak ada kenaikan namun, untuk tahun 2020 naik sebesar 23% dan 2021 ebesar 12.5%
Terlihat bahwa kedua perusahaan rokok, HMSP dan GGRM memiliki brand yang bernilai di Indonesia.
Dapat terlihat bahwa di harga 36.225 GGRM mendekati nilai riil nya meski sudah dilakukan diskon beberapa tangible aset nya. Dengan Market cap 70Triliun maka EV nya adalah 65,5 triliun. CFO tahun 2019 adalah sebesar 11,1 Triliun maka EV/CFO = 5,9x

Apa itu owner earnings ? dalam laporan tahunan Berkshire hathaway tahun 1986, buffett menjelaskan bahwa cara menghitung nilai dari sebuah perusahaan adalah dengan menghitung atau memprediksi berapa total arus kas yang akan dihasilkan perusahaan kedepannya selanjutnya dikurangkan dengan modal kerja yang di butuhkan / capex di tambahkan dengan item biaya penyusutan. tapi mungkin untuk simpel nya cukup mengurangkan cfo dengan capex.
Terlihat bahwa hampir setiap tahun owner earning GGRM selalu positif dengan kecendrungan meningkat. karena cenderung stabil, maka kita dapat menghitung CAGR owner earning nya. ternyata CAGR owner sebesar 16% dari tahun 2008 – 2019. owner earning yang pada tahun 2008 sebesar 1.2 triliun, pada 2020 sudah meningkat sebesar 6.2 triliun. dengan demikian dapat dihitung berapa nilai owner earning pada 11 atau 23 tahun mendatang dan kalau di jumlah owner earning tersebut, ternyata menghasilkan nilai yang fantastis. Ini menjadi alasan terakhir saya mulai akumulasi GGRM.

Update terbaru berdasarkan laporan tahunan 2020.
1. GGRM menjual 89.700.000.000. hitungan simpel saja. kalau perusahaan mampu meningkatkan laba atau harga jual sebesar 20 rupiah saja per batang. maka laba yang didapat sebesar = 89,7 milyar batang x 20 = sekitar 1,8 triliun rupiah. sedangkan harga penjualan 1 bungkus rokok isi 16 batang akan meningkat sebesar 320 rupiah per bungkus, angka 320 tidak akan menjadikan seorang perokok pusing.

http://tcsc-indonesia.org/wp-content/uploads/2012/08/Fact_Sheet_Industri_Rokok_di_Indonesia.pdf
http://ictoh-tcscindonesia.com/wp-content/uploads/2017/05/BKF_Kebijakan-Kenaikan-Cukai-dan-Harga-Rokok-sebagai-Instrumen-Pengendali-Prevalensi-Perokok-di-Indonesia.pdf
http://balittas.litbang.pertanian.go.id/images/pdf/sby60.pdf

https://internasional.kompas.com/read/2018/05/31/13362751/sejarah-rokok-dari-fungsi-medis-hingga-jadi-candu-dunia?page=all

Happy New Year 2021

Akhirnya tahun 2020 berlalu juga. Tahun 2020 akan menjadi tahun yang tidak terlupakan karena banyak sekali kehilangan yang saya rasakan. Di tahun 2020, saya kehilangan Ibu tercinta. Di tahun 2020 saya juga kehilangan penyanyi idola, glenn fredly. Juga salah seorang atlet idola, Kobe bryant. Dan juga entah kenapa tahun 2020 banyak sekali orang – orang yang saya kenal satu per satu pergi. Mulai dari awal tahun 2020 pada bulan januari bencana banjir melanda sebagian besar Indonesia khususnya jabodetabek, memasuki bulan 3 bencana covid-19 yang melumpuhkan sampai saat ini. Namun pada tahun ini juga keluarga kecil saya bertambah kehadiran seorang malaikat kecil. Yah di balik sebuah bencana tentu ada hikmah yang bisa kita petik pelajarannya.

Akhir kata saya mengucapkan selamat tahun baru 2021. Semoga apa yang kita impikan dapat tercapai.

Oh ya sedikit edit. setelah saya pertimbangkan, maka untuk beberapa artikel selain isi portofolio, maka mulai 2021 ini akan saya buka kembali dan jangan lupa sifatnya tetap disclamer on.

Another Asset Play

Mulai menginisiasi beli GWSA pada tanggal 8 Desember 2020 di harga 113 per lembar.

Informasi tentang perusahaan :
1. Didirikan pada tahun 1990 dan baru IPO pada tahun 2011.
2. Pemegang saham terbesar dari keluarga harry gunawan dan keluarga hartono ( founder ADR group / SMSM )
2. Perusahaan setiap tahun memperoleh deviden dengan berkisar 100 – 200 milyar. namun karena pendapatan perusahaan dari segi operasional masih minus, sehingga deviden nya habis untuk mengcover fixed cost.
3. Pendapatan berasal dari penjualan unit apartemen maupun dari recurring income. Penjualan apartemen sementara nihil karena belum ada proyek yang selesai. Sehingga praktis GWSA hanya mendapatkan uang dari penyewaan kantor TCC Batavia tower 1, apartemen peak, hotel holiday Inn itupun jumlah nya hanya sedikit ( dibawah 100 milyar per tahun ). Sebagian besar uang GWSA didapat dari deviden hasil investasi.
4. Sedang dalam progres membangun proyek capital square di surabaya dengan nama samanea residence.
5. Memiliki beberapa anak usaha yang memiliki proyek seperti capital square, Hotel Holiday Inn, The Peak apartement jakarta.
6. Memiliki investasi di beberapa mall dan pujasera seperti ; Mall emporium pluit, kuningan city, Lindeteves trade center, Senayan city dan Festival City link. Dari investasi inilah GWSA memperoleh deviden yang digunakan untuk mendanai operasional dan investasi lain yang di lakukan oleh GWSA. Histori deviden :
2016 = 1Triliun
2017 = 90,9 milyar
2018 = 272,1 milyar
2019 = 146,3 milyar
2020 = Estimasi 100,5 milyar

Prospek :
1. GWSA sedang dalam tahapan membangun super blok samanea residence dengan total unit sekitar 502 unit ( dapat info dari hasil chat dengan marketing samanea via Whatsapp ). Sehingga estimasi total penjualan Samanea 1,7 triliun dan itu hanya unit saja, sedangkan dari brosur, perusahaan akan menyediakan food and beverage, supermarket, dan apotik pada lantai bawah ( lantai 1 & 2 ) sehingga ini bisa menambah recurring income perusahaan. Proyek ini sudah topping off di bulan september 2020 dan saat ini dalam tahap finishing dengan rencana serah terima pada awal 2022.

2. SWF yang diharapkan dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan penjualan samanea residence.
3. Era suku bunga rendah yang akan memacu penjualan properti
4. kalau sampai proyek capital square berjalan maka dapat melanjutkan proyek TCC batavia tower 2.

Valuasi :
1. Berdasarkan Neraca kuartal 3 2020 perusahaan mempunyai EV= 14,3+10+323,8 + 881,4 – 259,5 : 970 Milyar.

2. Diharga 113 market kapitalis = 881,4 milyar. Dari tahun 2014-2019 hampir selalu diatas 1 triliun. Dengan nilai tertinggi di tahun 2014 sebesar 1,4 Triliun dan terendah di 2015 959,5 milyar. sehingga kalau GWSA bisa kembali ke valuasi 1.4 triliun maka masih ada upside 58,8%.
3. Key point ada di proyek capital square. Kalau itu jadi maka bisa menjadi triger menaikan harga saham pada tahun 2022.

Pelajaran Dari Proses Restrukturisasi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk ( AISA ). Akan kah AISA Menjadi Sebuah Turnaround Story Yang Indah ???

Kali ini saya mencoba membuat sebuah cerita dibalik proses restrukturisasi AISA. Saya membeli AISA sekitar Januari 2018. Singkat cerita AISA pada saat itu memiliki valuasi yang menarik perhatian saya untuk lebih lengkap nya ada di sini: https://lowardi.wordpress.com/2017/09/18/penurunan-harga-saham-aisa-kesempatan-atau-malapetaka/. Namun karena ketidaktelitian saya dalam mengecek satu – persatu akun di dalam balance sheet, saya pun tertipu oleh laporan keuangan audited yang diterbitkan perusahaan karena ternyata banyak sekali angka-angka yang dipalsukan oleh manajemen perusahaan dan anehnya, auditor pun tidak bisa mengecek kebenaran angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan manajemen. yaah dari kejadian AISA ini saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga yaitu manajemen adalah pertimbangan nomor satu baru valuasi dan prospek…
Waktu pun berlalu dan para direksi AISA yang lama satu per satu ditangkap pihak berwajib dan tadi pagi tanggal 4 Desember 2020, saya baca di koran bahwa para direksi ini dituntut hukuman penjara 10 tahun dan denda 15 milyar. sebetulnya dari angka yang demikian kecil menjadi ironis buat saya tapi berhubung sebelumnya tidak pernah ada direksi perusahaan Tbk yang masuk penjara, maka yah sudah mungkin ini sudah hal terbaik yang bisa didapat oleh para mantan manajemen AISA.

Kalau kita lihat Laporan keuangan AISA hasil restated yang dilakukan oleh manajemen baru, akan sangat sulit untuk mengembalikan AISA keposisi normal. Hutang per desember 2017 adalah sebesar 5,3 Triliun sedangkan total aset 1,9 Triliun maka ekuitas AISA defisit sebesar 3,3 triliun. Perusahaan yang punya modal defisit memiliki 2 pengertian. Yang 1 sangkin bagusnya perusahaan, maka perusahaan melakukan buyback saham sehingga modalnya negatif tapi mampu beroperasi seperti normal bahkan membukukan keuntungan. contoh perusahaan ini adalah Philip morris dan beberapa perusahaan bagus di luar Indonesia ( di Indonesia belum ada perusahaan seperti ini ). Dan yang kedua adalah perusahaan yang sudah bangkrut karena modalnya sudah 0 bahkan minus. Ya pada saat itu AISA secara pembukuan sudah bangkrut…. Bayangkan pada saat itu manajemen yang baru punya tugas membayar hutang jangka pendek ( hutang jatuh tempo di bawah 1 tahun ) sebesar 4,1 Triliun padahal uang tunai nya cuman 135,8 Milyar. Sungguh sebuah usaha yang tidak mudah.

Namun seiring berjalannya waktu, Manajemen AISA yang baru berhasil menggandeng pemegang saham baru dari grup FKS. Nah dari sinilah turn around story AISA dimulai.

Kalau kita lihat maka hutang berbunga AISA per 2018 adalah sebesar 3,3 Triliun dan AISA per desember 2018 masih membukukan negatif ekuitas sebesar 3,4 Triliun.

Setelah manajemen baru yaitu group FKS bekerja maka perlahan tapi pasti pembukuan AISA dibetulkan. Nah disini saya juga mendapatkan pelajaran mengenai restrukturisasi hutang – hutang AISA.

Adapun langkah – langkah penyelesaian Hutang adalah sebagai berikut :
1. Manajemen Melakukan restrukturisasi hutang jangka pendek menjadi hutang jangka panjang melalui proses PKPU.
2. Melalui proses PKPU tersebut juga manajemen mendapatkan diskon hutang pokok dan bunga.
3. Karena Manajemen mendapatkan diskon hutang pokok dan bunga maka kemungkinan besar laporan keuangan kuartal 4 perusahaan sudah akan positif.
4. Perusahaan mendapatkan suntikan dana dari FKS group sehingga dapat melunasi SELURUH HUTANG BERBUNGA dengan total nilai pembayaran 834,5 milyar sekaligus sebagai modal kerja. Adapun total suntikan modal dari FKS group kepada AISA adalah sebesar +- 1,270 Milyar (+- sebesar total revenue 2020) dimana sebesar 320 milyar untuk modal kerja dan 950 Milyar untuk pembayaran hutang-hutang AISA.
Untuk lebih jelas dapat melihat pada gambar di bawah ini :

Data hutang yang disampaikan perusahaan pada saat pengumuman PMTHMETD

Pada kedua gambar diatas dapat terlihat bahwa manajemen AISA berhasil negosiasi dengan para pemegang surat hutang maupun dengan pihak perbankan mengenai total kewajiban yang mereka miliki. Saya cukup terkejut ternyata ada langkah-langkah demikian dalam proses restrukturisasi yang mana sebuah perusahaan yang memiliki hutang berbunga 2,96 Triliun dengan proses PKPU maka perusahaan cukup hanya membayar 834 milyar atau terdiskon sebesar sekitar 71,8%. Itupun kalau semua pemegang obligasi dan sukuk mau dibayar hanya 25% dari total uang mereka karena dalam PKPU juga terdapat sebuah perjanjian bahwa bagi pemegang obligasi dan sukuk ijarah yang telah direstrukturisasi sehingga memiliki jatuh tempo pada 30 Juni
2029, dikenakan bunga sebesar 2% per tahun dengan periode pembayaran bunga setiap 6 bulan, akan dibeli kembali oleh perusahaan sebelum tanggal 30 Juni 2022 dan dapat dikonversi menjadi saham dengan harga Rp200 per lembar setelah tanggal 30 Juni 2022. Sementara saham AISA sudah naik sekitar 221,8% dari 128 harga pasca pembukaan suspend ke harga per hari ini 11 des 2020 di 412. Manajemen melalui keterbukaan informasi pada tanggal 3 des 2020 menyatakan akan membeli kembali surat hutang obligasi dan sukuk perusahaan dengan nilai seperti yang diatas. Maka saya pun mengandai-andai, apabila saya jadi pemegang surat hutang perusahaan, maka melihat harga saham yang terus naik, apa yang akan saya lakukan ? apakah saya menerima uang saya kembali hanya sebesar 25% atau menunggu sampai 2022 dan menukarnya menjadi saham perusahaan diharga 200 per lembar ?

Akankah AISA menjadi sebuah turnaround story yang indah ? ataukah justru menjadi kehancuran yang makin dalam untuk para pemegang surat hutang perusahaan ? dan akan keberapakah AISA pasca dateline buyback surat hutang perusahaan pada tanggal 16 desember 2020 ?